Natuna, AnalisisPos.com – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna pada tahun 2025 tercatat sebesar 10,49 persen. Namun di balik angka yang terlihat tinggi tersebut, terdapat fakta lain yang memunculkan perhatian: pertumbuhan ekonomi tanpa migas (nonmigas) justru tercatat minus 1,61 persen.
Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Natuna tanpa migas pada 2025 justru mengalami kontraksi sebesar minus 1,61 persen.
Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Natuna, Agino Rico, mengatakan data pertumbuhan ekonomi daerah memang merujuk pada rilis resmi BPS.
“Pendataan berkenaan dengan pertumbuhan ekonomi dilaksanakan oleh BPS. Data yang dirilis menyebutkan PDRB Kabupaten Natuna tahun 2025 sebesar 10,49 persen, sedangkan PDRB tanpa migas minus 1,61 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, PDRB merupakan nilai total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di suatu daerah dalam satu tahun, termasuk nilai produksi dari sektor migas. Sementara PDRB tanpa migas hanya menghitung aktivitas ekonomi dari sektor lain, seperti pertanian, perikanan, perdagangan, industri, dan jasa dan yang lainnya.
Secara statistik, angka pertumbuhan 10,49 persen menunjukkan ekonomi daerah meningkat signifikan. Namun jika sektor migas dikeluarkan dari perhitungan, perekonomian Natuna justru mengalami penurunan.
Artinya, aktivitas ekonomi pada sektor yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat belum menunjukkan pertumbuhan positif.
Beberapa sektor yang masuk dalam kategori nonmigas antara lain: pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, jasa dan usaha kecil menengah (UMKM).
Jika sektor-sektor tersebut mengalami penurunan, maka dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat karena sektor inilah yang menjadi sumber aktivitas ekonomi harian.
Agino Rico mengakui bahwa struktur ekonomi Natuna hingga kini masih sangat dipengaruhi oleh sektor migas.
“Perekonomian kita masih bergantung dengan DBH migas. Jadi begitu DBH turun memberikan efek terhadap sektor lainnya,” katanya.
DBH migas atau Dana Bagi Hasil minyak dan gas selama ini menjadi salah satu penopang utama fiskal daerah. Ketika penerimaan dari sektor tersebut menurun, dampaknya dapat merambat ke berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Dengan kondisi PDRB tanpa migas minus 1,61 persen, Agino Riko mengatakan hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masyarakat Natuna melemah, sektor yang langsung berkaitan dengan aktivitas masyarakat mengalami penurunan, ketergantungan daerah pada DBH migas tinggi dan sektor riil belum berkembang secara signifikan seperti perdagangan, UMKM, atau perikanan.
Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Natuna, Wahyu Dwi Sugianto membenarkan bahwa PDRB tanpa migas Tahun 2025 tercatat minus 1,61 persen, sedangkan untuk PDRB Tahun 2025 sebesar 10,49 persen.
“PDRB Kabupaten Natuna bisa tumbuh 10,49 persen karena dominasi sektor migas yang memiliki andil lebih dari 60 persen dari total PDRB Natuna. Tetapi jika dilihat lebih dalam, masih ada kontraksi di beberapa sektor nonmigas,” jelasnya melalui pesan singkat.
Menurut Wahyu, dua sektor utama nonmigas yang memiliki kontribusi cukup besar justru mengalami penurunan kinerja pada tahun lalu.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan produksi dan nilai tambah pada beberapa subkategori penting, terutama perkebunan dan perikanan. Selain itu, sektor konstruksi juga tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Wahyu menilai kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Menurutnya, dengan kondisi PDRB tanpa migas Natuna yang minus dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi Kepulauan Riau, pemerintah daerah perlu bekerja lebih keras untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil.
“Pemerintah daerah masih harus berjuang mencapai target pertumbuhan ekonomi yang positif dan stabil, agar tidak menimbulkan kepanikan juga di masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pada tahun sebelumnya PDRB tanpa migas Natuna masih berada pada posisi positif, sehingga kontraksi yang terjadi pada 2025 terutama dipengaruhi oleh penurunan pada dua sektor dominan nonmigas tersebut. (red)






